Untukmu, Sahabat yang Menungguku di Ujung Waktu

Cinta sahabat sendiri

Kau tak pernah berhenti membuatku jatuh hati, meski ku tahu kau sahabatku sendiri.

 

Haruskah aku yang menikahimu nanti saat ia tak kau harapkan lagi?

 

Pesan itu datang tanpa kuperkirakan sebelumnya. Kupikir, rasamu telah usai sejak kita berpisah dua tahun lalu. Bukan waktu yang sebentar untuk lari dari kenyataan bahwa cinta kita telah usai. Toh selama ini memang tidak ada apapun yang berarti, selain cinta kita yang sulit untuk dipersatukan. Sebelum perpisahan itu mengetuk pintu, kita telah menyepakati bahwa tidak ada persahabatan yang berakhir. Kau dan aku akan selalu menyayangi sebagai dua insan yang sama-sama sadar diri bahwa cinta tak harus bersatu. Namun, hari ini kata-kata itu seolah menuai usai. Bukan karena kita tak lagi bersahabat, namun karena aku mulai merindukanmu dan ingin mencintaimu lagi.

Aku tak pernah tahu bahwa hari ini akan tiba, di mana kamu datang untuk menyelamatkanku kembali

Cinta sahabat sendiri
Mengapa cinta harus hadir lagi padahal ku tahu ia telah usai bertahun-tahun lalu (Foto: media-amazon.com)

Kamu mungkin tidak pernah menghapus ingatan akan kedekatan kita di masa lalu. Ada banyak tempat yang kita kunjungi berdua. Di sela-sela penugasan kuliah, kamu selalu menyempatkan diri untuk menemaniku mengunjungi tempat-tempat itu. Namun, entah mengapa, saat aku pergi ke tempat yang sama tanpa dirimu, dadaku rasanya sesak. Kehadiranmu yang justru kurindukan. Sebagai orang yang mampu memahamiku, untuk hal-hal yang terkadang tak ingin kuterima dalam hidupku. Termasuk cinta yang salah hari ini.

Aku masih ingat apa yang kita jalani selama lima tahun terakhir. Di mana pertama kali aku mengenalmu. Mengunjungi tempat-tempat terbaik yang belum pernah kuarungi sepanjang usiaku.

Mendengar cerita soal dirimu, dan juga betapa sulitnya kita melalui hidup sebagai orang tak berada. Aku juga tidak pernah menyangka bahwa kamu adalah orang pertama yang menerimaku sebagai bagian dari capaianmu. Ada banyak cerita melambung di udara. Kamu merangkumnya dalam dekap yang hangat dan menuntunku sampai ke sana. Ke tempat yang hanya diketahui oleh kita berdua.

Baca juga: Resep Menjaga Cinta Beda Agama Agar Langgeng Hingga Hari Tua

Seseorang menyakitiku di masa lalu dan hari ini, dan kamu lah yang selalu jadi rumah untuk menyembuhkan hati

Cinta sahabat sendiri
Kau jadi pendengar terbaik untuk semua ceritaku (Foto: media-amazon.com)

Barangkali benar bahwa tidak akan ada persahabatan antara pria dan wanita yang murni tanpa cinta. Dulu, kita pernah membicarakan hal ini. Di saat kita sama-sama lari dari kenyataan bahwa ada cinta yang bersemi di hati. Namun aku tersadar, bahwa tidak akan ada cinta tulus yang mudah terhapus. Kamu membuatnya abadi dengan kesetiaanmu untuk selalu berada di sisi.

Saat ia meninggalkanku dan memintaku untuk kembali, kau lah orang pertama yang tahu bagaimana berkecamuknya perasaanku. Kau tahu bahwa sebelumnya aku kesulitan untuk lari dari dilema cinta tiada bertepi. Tapi kamu, dengan semua kebijaksanaanmu, selalu menerimaku. Mengatakan bahwa semua hal sulit pasti bisa kita lalui.

Untuk selanjutnya, tak ada yang kita rahasiakan. Namun, ini pengecualian bagi rasaku yang belakangan bertandang kembali. Ia memproyeksikan wajahmu dalam layar perasaanku. Kau hadir di mimpi, jadi puing-puing kisah yang tak bisa kugapai meski aku berada di dekatmu.

Aku tidak tahu bagaimana ini bermula, dan rupanya hal itu turut membuatku bimbang, bagaimana caraku untuk mengakhirinya

Untukmu, Sahabat yang Menungguku di Ujung Waktu
Kau selalu ada, bahkan sebelum aku bercerita soal perasaanku (Foto: kenh14cdn.com)

Coba katakan apa yang bisa kulakukan untuk lari dari persoalan dilematis semacam ini. Hadirmu menutup pandangan pada seseorang yang berdiri jauh di sana. Yang katanya akan hidup bersamaku, namun tak ada satu hal pun yang dilakukannya untuk berjuang bersamaku. Sedangkan kamu, sahabatku sendiri, justru mengisi ruang-ruang di hatiku dengan segenap perjuanganmu. Kau tahu aku adalah perempuan yang tidak bisa duduk diam, dan kau memahami bahwa tipikal sosok ideal di mataku adalah pria pekerja keras.

Satu hal yang pasti, aku tidak pernah tahu bagaimana hal ini bermula. Semua cinta yang tercipta kembali seolah mengepungku dalam khayalan semu.

Aku tak mungkin menggapaimu, dan tak mungkin pula meninggalkannya. Tolong beritahu aku bagaimana caranya bertahan dalam ikatan tak pasti dan kesedihan tak bertepi ini.

Baca juga: Terungkap, 3 Tips Hubungan Langgeng Tanpa Drama!

Kau bilang akan menantiku, tapi apakah kita bisa benar-benar bersatu dalam ikatan cinta yang suci

Untukmu, Sahabat yang Menungguku di Ujung Waktu
Yang ku tahu kau tak pernah absen dalam masa-masa sulitku (Foto: http://marcusgohmarcusgoh.com)

Atas nama persahabatan dan perbedaan yang terbentang luas di antara kita, kau mungkin akan menemui hal pahit setelah ini. Begitu pun aku. Satu kalimat yang kau ungkapkan belakangan hadir rupanya menerabas batas-batas ketakutan itu. Kau bilang akan menungguku di ujung waktu. Tapi apakah kau sanggup menerima separuh hatiku yang telah rapuh tergores kekecewaan pada kekasihku?

Aku tidak mengerti bagaimana ini bermula, dan oleh karenanya, aku pun tak mampu menemukan cara untuk mengakhirinya. Mungkinkah kita harus sama-sama pergi dan berpaling untuk menyembunyikan cinta yang tak semestinya?

Dan kau masih berdiri di sana. Memastikan bahwa aku akan memilih jalan terbaik untuk diriku sendiri. Entah akan bermuara padamu atau tidak, biarkan Tuhan yang merahasiakannya. Aku tetap menyayangimu dan membiarkan perasaan ini akan pudar dengan sendirinya.

Terima kasih telah setia menantiku di ujung waktu, dan biarkan takdir yang menuntun hatiku dan hatimu untuk menjumpai apa-apa yang terbaik, untuk diriku, untuk dirimu, untuk kita berdua dan seseorang yang nantinya kita pilih. 

0 Comments

    Leave a Comment

    Login

    Welcome! Login in to your account

    Remember me Lost your password?

    Lost Password