Ramadan Sebentar Lagi, Yuk Intip Kemeriahan Tradisi Petang Megang ini

Ratusan orang berbondong-bondong menuju Sungai Siak. Panggung hiburan telah didirikan sejak pagi bertandang, menjadi penanda bahwa akan digelar perhelatan akbar sore harinya. Menjelang bulan suci Ramadhan, tradisi Petang Megang rutin dilaksanakan sebagai bagian dari pelestarian budaya masyarakat Pekanbaru dan sekitarnya. Semua elemen masyarakat Pekanbaru hadir di lokasi untuk turut berkontribusi dalam tradisi tahunan ini. Raut sumringah dan bahagia jelas tergambar di wajah para elemen masyarakat dan instansi pemerintahan, tak terkecuali pemimpin daerah yang juga datang meramaikan acara.

 

Tradisi Pegang Megang mengandung makna yang dalam. Istilah “Petang Megang” diartikan sebagai waktu di antara sore dan maghrib. Hal ini merujuk pada waktu diadakannya perhelatan akbar tahunan itu. Tradisi ini juga kerap disebut dengan istilah Petang Belimau, karena dalam tradisi ini digunakanlah media air yang beraroma khas limau purut. Air belimau ini digunakan untuk menyiram diri (tubuh) sebagai bentuk pembersihan. Kepercayaan masyarakat setempat juga mengarah pada manfaat air belimau yang diyakini mampu membersihkan diri dari kotoran-kotoran, baik yang nampak maupun yang tidak tampak, seperti dosa. Pembersihan diri menjelang bulan suci Ramadhan juga dirasa perlu sebagai bentuk kesiapan seseorang untuk menjalankan ibadah puasa.

Semula, tradisi Petang Megang di Pekanbaru dilakukan oleh masyarakat pesisir, seperti kabupaten Siak, Bengkalis, Rokan Hilir, dan Meranti. Mandi dengan air belimau adalah salah satu konsep dasar utama kegiatan Petang Megang yang dilakukan oleh seluruh elemen masyarakat Pekanbaru. Tradisi ini secara serempak dilakukan oleh warga sekampung di kawasan Tanjungruhu, yang tercatat sebagai kampung tertua di Pekanbaru. Masyarakat Tanjungruhu berasal dari etnis Melayu yang berada di berbagai kabupaten di Riau. Masyarakat ini merantau dan menetap di daerah Tanjungruhu dan Kampungdalam hingga memiliki keturunan yang kini turut mendiami daerah tersebut.

Setiap tahunnya, acara ini dihelat di Sungai Siak. Namun, seiring berjalannya waktu, kondisi Sungai Siak semakin memprihatinkan. Bahkan dari segi warna, sungai itu telah banyak berubah menjadi kecoklatan akibat aktivitas industri yang tidak ramah lingkungan. Sehingga konsep mandi belimau pun berubah haluan menjadi tradisi yang dilakukan di rumah-rumah. Hal ini ternyata berimbas pada keberlanjutan budaya dan tradisi Petang Megang atau Petang Belimau di generasi berikutnya. Meskipun hampir punah, beberapa elemen masyarakat tetap berupaya menghidupkan kembali atmosfer kebersamaan dalam tradisi tahunan ini, seperti mengemasnya menjadi bentuk yang lebih modern, namun tidak meninggalkan nilai-nilai luhur yang ada di dalam tradisi.

Dalam acara Petang Megang dewasa ini, para wisatawan yang datang berkunjung ke Pekanbaru menjelang ramadhan akan menyaksikan berbagai elemen masyarakat dan pihak-pihak pemerintahan, maupun para tokoh masyarakat mengenakan busana melayu. Alunan musik Melayu dan tari persembahan juga turut meramaikan acara ini. Kini, tradisi Petang Megang rutin dilaksanakan di bawah Jembatan Siak I di Jalan Meranti Pekanbaru. Sebelumnya, tradisi Petang Megang yang sempat mati suri kembali dihidupkan dan dilaksanakan di Jalan Tanjungbatu pada tahun 1993 hingga tahun 2000, dengan Anas Aismana sebagai penggagasnya. Pasca tahun 2000, kegiatan ini beralih ke Jembatan Siak I, hingga saat ini.

View this post on Instagram

#petangmegang#siak#pekanbaru

A post shared by desrimanzahmi (@desrimanzahmi) on

Tradisi ini dimulai dengan penjemputan para tokoh masyarakat, tokoh adat, ulama dan warga. Semua elemen itu bersama-sama berjalan kaki dari Masjid Raya Nur Alam Pekanbaru menuju makam para raja-raja Siak dan tokoh pendiri kota Pekanbaru yang berjarak sekitar lima belas meter. Usai berziarah, kegiatan dilanjutkan dengan perjalanan menuju tempat pemakaman umum (TPU) Senapelan, berjarak kurang lebih empat ratus meter. Beberapa tokoh yang diziarahi antara lain Buya Abdullah Hasan, budayawan Edi Ruslan P Amanriza dan seniman Riau Husni Tamrin. Setelah purna dari kegiatan ziarah, mereka kembali ke Masjid Raya Pekanbaru untuk menunaikan shalat Azhar berjamaah. Selepas shalat, para pejabat dan rombongan bergerak menuju arah Jembatan Siak I yang membujur di atas Sungai Siak Pekanbaru untuk membuka acara Petang Megang.

Prosesi dimulai dengan mandi belimau secara simbolis kepada sepuluh orang anak dan remaja. Mereka dimandikan oleh Wali Kota Pekanbaru bahkan juga oleh Gubernur Riau. Tak lupa, sajian kesenian dan hiburan rakyat pun disajikan untuk meramaikan acara ini. Salah satu yang paling menarik adalah lomba menangkap itik di Sungai Siak, dilanjutkan menceburkan diri bersama-sama di sungai utama kota Pekanbaru ini. Semua rangkaian acara ini disambut antusias oleh seluruh elemen masyarakat, terutama bagi yang akan melaksanakan puasa satu bulan ke depan. Meski telah dikemas secara lebih modern, kenyataannya tradisi ini tetap mendapat animo yang luar biasa dari seluruh elemen masyarakat kota Pekanbaru dan sekitarnya.

0 Comments

Leave a Comment

Login

Welcome! Login in to your account

Remember me Lost your password?

Lost Password