Wah! Inilah Sejarah Hari Nyepi yang Perlu Kita Ketahui

Inilah Sejarah Hari Nyepi yang Perlu Kita Ketahui - Ohayo.co.id

Ohayo.co.id – Sesuai namanya, Nyepi dirayakan dalam suasana sepi dan tenang dengan melaksanakan Catur Brata Penyepian atau empat pantangan, yaitu amati karya (tidak bekerja), amati geni (tidak menyalakan api), amati lelungan (tidak bepergian), dan amati lelanguan (tidak menikmati hiburan). Bahkan Bali, yang mayoritas penduduknya beragama Hindu, meniadakan seluruh kegiatan masyarakatnya – kecuali rumah sakit – untuk merayakan hari raya yang juga dikenal dengan sebutan Tahun Baru Saka ini.

Menariknya, sejarah hari Nyepi yang penuh ketenangan dan khidmat ibadah ini ternyata justru berawal dari perang tak berkesudahan antar sejumlah suku di India. Lalu bagaimana perselisihan tersebut bisa berubah jadi sebuah hari suci? Mari kita telusuri lebih jauh soal sejarah Nyepi dan perkembangannya di Indonesia.

Perebutan Kekuasaan 5 Suku di India

Barangkali belum banyak orang tahu kalau sejarah hari Nyepi adalah sejarah yang penuh pertumpahan darah. Jauh sebelum kalender Masehi ditetapkan, wilayah India dikuasai oleh 5 suku yang tidak pernah akur. Mereka adalah Suku Saka, Suku Yueh Chi, Suku Pahiava, Suku Malaya, dan Suku Yavana. Adapun yang kerap menjadi pemicu perang kelima suku ini ialah soal perebutan wilayah dan kekuasaan. Selain itu, perbedaan pemahaman terkait ajaran agama pun seringkali menimbulkan konflik di antara mereka.

Dengan kekuatan yang seimbang, kelima suku ini kerap bergantian jadi pemenang perang. Namun, terlepas dari siapa pemenangnya, iklim pertikaian yang tak kunjung usai berdampak pada rusaknya stabilitas kehidupan sosial dan beragama masyarakat India pada saat itu.

Perebutan Kekuasaan 5 Suku di India - Sejarah Hari Nyepi yang Perlu Kita Ketahui - Ohayo.co.id
Konflik Suku Saka, Suku Yueh Chi, Suku Pahiava, Suku Malaya, dan Suku Yavana yang menjadi tonggak lahirnya hari raya Nyepi (Foto: hawkebackpacking com)

Sampai pada suatu waktu, Suku Saka di bawah pimpinan Raja Kanishka I pun berhasil memenangkan perang dan menjadi suku yang berkuasa di India. Tidak seperti raja-raja pendahulunya yang berusaha untuk menghancurkan suku lain yang tidak sepaham, Raja Kanishka I justru memerintahkan masyarakatnya untuk merangkul suku-suku lain meski berbeda pemahaman. Dari sinilah sejarah hari Nyepi dan tahun baru Saka bermula.

Sejak berhasil mendamaikan kelima suku yang tadinya berseteru, Raja Kanishka I pun memperkenalkan sistem 12 bulan kalender Saka yang mulai berlaku pada bulan Maret tahun 78 Masehi. Sejak saat itu, sistem kalender Saka terus berkembang seiring pesatnya penyebaran agama Hindu ke seluruh dunia, termasuk Indonesia.

Baca juga : Keren, Ini 3 Festival Bali Jelang Nyepi yang Sarat Nilai Seni dan Budaya

Sejarah hari Nyepi di Indonesia

Tahun 456 Masehi menjadi cikal bakal sejarah hari Nyepi di Indonesia. Saat itu, seorang pendeta asal India yang kemudian diberi gelar Aji Saka untuk pertama kalinya menginjakkan kakinya di tanah Jawa – tepatnya di Desa Waru, Kabupaten Rembang, Jawa Tengah – untuk menyebarluaskan agama Hindu sekaligus memperkenalkan dan mensosialisasikan penerapan sistem kalender Saka. Ajaran Hindu yang dibawa Aji Saka dan para abdinya pun berhasil berkembang dengan baik di pulau Jawa.

Ajaran Hindu di Indonesia pertama kali dibawakan oleh pendeta Aji Saka asal India - Inilah Sejarah Hari Nyepi yang Perlu Kita Ketahui - Ohayo.co.id
Ajaran Hindu di Indonesia pertama kali dibawakan oleh pendeta Aji Saka asal India (Foto: theyakmag com)

Hingga di masa kekuasaan Kerajaan Majapahit pada abad ke-13 Masehi, sistem kalender Saka benar-benar telah resmi dipakai sebagai sistem penanggalan kerajaan. Bahkan, perayaan tahun baru Saka tercantum pula dalam kitab Kekawin Nagarakretagama yang disusun oleh Mpu Prapanca. Di sana diceritakan bahwa kepala desa, prajurit, pelajar, pendeta, hingga raja berkumpul di alun-alun Majapahit pada momen pergantian tahun Saka untuk mendiskusikan soal peningkatan moral masyarakat.

Naskah asli kekawin Nagarakretagama - Inilah Sejarah Hari Nyepi yang Perlu Kita Ketahui - Ohayo.co.id
Naskah asli kekawin Nagarakretagama (Foto: dictio id)

Dari pulau Jawa, agama Hindu kemudian masuk ke Bali. Momentum utama penyebarluasan agama Hindu di Bali terjadi saat Kerajaan Majapahit berhasil menaklukkan Bali pada abad ke-14 Masehi. Penaklukan tersebut pun secara otomatis membakukan sistem kalender Saka sebagai sistem penanggalan yang berlaku saat itu, sekaligus menjadi titik mula lahirnya hari raya Nyepi di Bali.

Di sini, perlu kamu ketahui kalau hari raya Nyepi bukanlah ritual yang dibawa oleh ajaran agama Hindu ke Indonesia. Hari raya Nyepi sebenarnya merupakan produk akulturasi (perpaduan kebudayaan) antara budaya masyarakat Bali dengan ajaran-ajaran agama Hindu. Jadi, bisa dibilang, perayaan Nyepi merupakan kebudayaan yang hanya dapat ditemui di Indonesia. Sejarah hari Nyepi di Bali sendiri tercatat dalam lontar (naskah kuno yang tercatat di daun lontar) Sanghyang Aji Swamandala dan Sundarigama.

Baca juga : Upacara Melasti, Bentuk Penyucian Diri Jelang Nyepi, Ini Detail Prosesinya

Hari Raya Nyepi 2019

Berkaca dari sejarah hari Nyepi dan tahun baru Saka yang merupakan momen pembaharuan, toleransi, sekaligus persatuan bagi masyarakat India terdahulu, pemerintah Indonesia pun ingin menjadikan hari raya Nyepi 2019 (tahun baru Saka 1941) yang jatuh pada 7 Maret 2019 sebagai momentum untuk merajut persatuan dan toleransi di masyarakat. Apalagi, 2019 merupakan tahun politik yang sangat rentan terhadap konflik dan perpecahan.

Dharma Santi Nyepi Nasional 2018 - Inilah Sejarah Hari Nyepi yang Perlu Kita Ketahui - Ohayo.co.id
Dharma Santi Nyepi Nasional 2018 (Foto: phdi or id)

Salah satu agenda akbar yang selalu diselenggarakan oleh pemerintah dalam rangka merayakan Nyepi tiap tahun ialah Dharma Santi Nyepi Nasional. Dilansir oleh balipost.com (25/1), ada dua lokasi yang menjadi opsi pelaksanaan Dharma Santi Nyepi Nasional 2019, yakni Ardha Candra Art Center, Denpasar, atau Bali Nusa Dua Convention Center, Nusa Dua. Targetnya, 5000 sampai 10000 masyarakat Hindu akan diundang menghadiri agenda ini. Selain itu, akan ada pula Tawur Kesanga (upacara penyucian alam semesta untuk menyambut tahun baru Saka) Nasional di Yogyakarta.

Nah, semoga ulasan soal sejarah hari raya Nyepi dan perkembangannya di Indonesia ini dapat membuat kita lebih menghayati makna Nyepi dan tahun baru Saka, ya. Buat kamu yang beragama Hindu, terutama yang berdomisili di Bali dan Yogya, jangan lupa berpartisipasi di Dharma Santi Nyepi dan Tawur Kesanga Nasional 2019. Lewat hari raya Nyepi, mari kita mempererat persatuan bangsa dan budaya toleransi!

(ohayo.co.id - #rayakankeberagaman)
Penulis: Bimo Logo Pribadianto
Editor: Fitria Yusrifa

0 Comments

    Leave a Comment

    Login

    Welcome! Login in to your account

    Remember me Lost your password?

    Lost Password