Bak Kota Mati Pasca Merebaknya Virus Corona, Inilah Fakta Kota Wuhan di Tiongkok

Kota Wuhan kini menjadi perbincangan hangat di kalangan publik. Pasca merebaknya virus Corona yang mematikan, kota yang dianggap sebagai tempat pertama penyebaran virus ini mendadak lengang. Bagaimana tidak? Jumlah orang yang tewas dan terinveksi akibat serangan virus Corona di kota ini semakin meningkat. Bak kota mati, tidak banyak aktivitas harian yang biasa dilakukan oleh warga setempat. Seperti apakah profil kota Wuhan yang mendadak muncul ke permukaan selama beberapa minggu belakangan ini?

Merupakan salah satu kota terpadat di bagian pusat Tiongkok

Wuhan merupakan kota padat penduduk (Foto: liputan6.com)

Wuhan adalah satu dari sekian banyaknya kota padat penduduk di pusat Tiongkok dan bahkan menduduki posisi ke-27 sebagai kota terpadat di dunia. Kota Wuhan memiliki daerah seluas 8.494 km2  dan terletak di provinsi Hubei, Tiongkok. Luas wilayah ini dua belas kali lipat dibandingkan Jakarta. Dengan jumlah penduduk sekitar 11,08 juta jiwa, kota Wuhan juga menjadi jembatan penghubung antar kota di provinsi Hubei, Tiongkok. Dialiri oleh dua sungai besar, yakni Sungai Yangtze dan Sungai Hanshui, keberadaan kota Wuhan dinilai cukup vital di Tiongkok.

Menyebarnya virus Corona di kota ini secara cepat diduga turut dipicu oleh padatnya jumlah penduduk yang tinggal di Wuhan. Belum lagi, Wuhan termasuk ke dalam kota yang beriklim subtropis dengan curah hujan tinggi.

Dari segi pendidikan, terdapat dua kampus terkemuka di Tiongkok yang terletak di Wuhan, yakni Universitas Wuhan dan Huazhong University of Science and Technology. Kota ini juga memiliki dua lembaga pertanian terkemuka di Tiongkok, yakni Universitas Pertanian Huazhong dan Lembaga Penelitian Tanaman Minyak dari Akademi Ilmu-ilmu Pertanian Tiongkok. Pada tahun 1920-an, Wuhan pernah menjadi ibukota pemerintahan Kuomintang dengan Wang Jingwei sebagai pemimpinnya. Pemerintahan ini merupakan lawan dari Chiang Kai-shek.

Wuhan merupakan ibukota provinsi dan pemerintahan dijalankan oleh Partai Komunis Tiongkok. Adapun bentuk pemerintahan ini dipimpin oleh Sekretaris Partai Komunis setempat, Ma Guoqiang. Kewenangan komunis daerah ini di antaranya menetapkan kebijakan administratif, menghimpun pajak, mengelola ekonomi, dan menjadi penghubung antara pemerintah pusat ke pemerintahan daerah. Kota Wuhan juga memiliki wali kota dan beberapa wakil wali kota. Terdapat berbagai biro yang mengurusi permasalahan hukum, ketertiban umum dan berbagai urusan lain di Wuhan.

Kota Wuhan juga dikenal sebagai kota industrial yang modern dan mengadopsi berbagai kemajuan khas Eropa. Dengan akses yang cukup mudah, baik dari Shanghai maupun Beijing melalui transportasi darat maupun udara, Wuhan tumbuh menjadi kota kontemporer yang cukup diperhitungkan di Tiongkok.

 

Sejak tahun lalu, kota Wuhan sudah terindikasi wabah nCov, namun baru benar-benar menyebar pada awal tahun 2020

Kota ini mendadak sunyi (Foto: rancah.com)

 

Pada Desember 2019, wabah nCov atau koronavirus baru 2019-2020 kian merebak di daratan Wuhan, Tiongkok. Tidak diketahui bagaimana penyakit ini mulai menyebar. Namun, penderitanya mendadak terserang pneumonia. Sebagian pengidap merupakan pemilik lapak di Pasar Ikan Huanan yang juga menjual hewan hidup, seperti kelelawar. Satu hal yang diketahui pasti adalah virus ini pertama kali tersebar di Wuhan. Sejumlah peneliti di Tiongkok telah mengisolasi koronavirus baru yang diberi kode 2019-nCov. Virus ini diduga memiliki kemiripan dengan SARS yang mewabah beberapa dekade silam dan mengakibatkan jutaan orang kehilangan nyawa.

Sejak awal, badan kesehatan dunia atau WHO telah memperingatkan bahwa wabah ini berpotensi meluas, khususnya di tengah puncak arus mudik Tahun Baru Imlek. Dugaan kasus pertama yang dilaporkan tepatnya pada 31 Desember 2020, merupakan hal yang cukup esensial dalam mengambil kesimpulan dasar mengenai penyebaran virus ini. Jauh sebelum itu, tepatnya pada 8 Desember 2019, instansi setempat telah menerima laporan mengenai orang-orang yang secara mendadak mengalami gejala pneumonia. Pasar tempat tersebarnya virus tersebut akhirnya ditutup pada 1 Januari 2020 dan orang-orang yang terjangkit harus dikarantina. Jumlah orang yang harus dikarantina ada kurang lebih 700 orang. Semua pihak tersebut adalah yang melakukan kontak langsung dengan terduga pengidap. Korban jiwa mulai berjatuhan pada 9 Januari dan 16 Januari 2020, setelah 41 orang di Wuhan telah divonis mengidap virus korona 2019-nCov.

Pada Januari 2020, dilaporkan bahwa otoritas Tiongkok mengisolasi kota dengan tujuan “memperlambat wabah” koronavirus. Usaha mengarantina kota ini berpengaruh pada aktivitas transportasi darat maupun udara. Tidak heran saat ini kota Wuhan tampak seperti kota mati. 

 

Penulis: Fitria Yusrifa

0 Comments

Leave a Comment

Login

Welcome! Login in to your account

Remember me Lost your password?

Lost Password