Museum Batik Yogyakarta, Etalase Batik Terlengkap Se-Nusantara

Museum Batik Yogyakarta, Etalase Batik Terlengkap Se-Nusantara

Ohayo.co.id – Sebuah kain panjang membentang di sudut museum. Kain produksi tahun 1950-1960 merupakan kain panjang Soga Jawa yang termasuk dalam koleksi kuno dan terkenal yang dipajang di museum ini. Koleksi kuno dan terkenal lainnya adalah Kain batik buatan tahun 1780, Kain Panjang Soga Ergan Lama (tahun tidak tercatat), Sarung Isen-isen Antik (1880-1890) buatan Nyonya Belanda EV.Zeuylen dari Pekalongan, dan Sarung Panjang Soga Jawa (1920-1930) buatan Nyonya Lie Djing Kiem dari Jogja.

Museum Batik Yogyakarta didirikan pada Mei 1977 atas prakarsa Hadi Nugroho dan sang istri, Ibu Dewi Sukaningsih, museum ini kian melengkapi koleksi batik dan sulaman Indonesia yang bersejarah dari waktu ke waktu. Museum ini kemudian diresmikan oleh Kantor Wilayah Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi DIY dan menjadi salah satu aset sejarah bangsa yang mendunia serta wajib dikunjungi saat singgah di Yogyakarta.

Tidak hanya aneka produk batik dan sulaman khas, beberapa wajah tokoh penting bagi sejarah bangsa Indonesia dapat ditemui di dinding bagian atas museum. Wajah-wajah itu nampak familiar dan tersulam dengan rapi. Beberapa di antaranya adalah Presiden Indonesia pertama, Ir.Soekarno; Presiden kedua, Soeharto; Presiden kelima, Megawati Soekarno Putri; dan Wakil Presiden Indonesia, Sri Sultan Hamengkubuwono IX. Sulaman wajah lainnya yang dapat ditemui adalah potret pahlawan Imam Bonjol dan Pangeran Diponegoro. Museum ini juga melengkapi koleksinya sebagai museum berwawasan global, dengan memajang sulaman wajah tokoh dunia seperti Paus Yohanes Paulus II dan Bunda Teresia dari India.

Museum Batik Yogyakarta, Etalase Batik Terlengkap Se-Nusantara 2

Jumlah total koleksi yang ada di museum ini sebanyak 1.259 buah, meliputi 500 lembar kain batik, 600 jenis cap batik, 124 canting dan 35 koleksi alat. Selain aneka koleksi kuno dan terkenal, museum ini juga memiliki satu koleksi sulam terbesar hasil karya Ibu Dewi Nugroho yang berukuran 390 cm X 90 cm. Koleksi sulam ini dianugerahi rekor MURI karena keelokan dan ukurannya yang tidak biasa. Selain membuat sulaman terbesar, Ibu Dewi Nugroho juga mengoleksi aneka sulaman acak buah berjumlah sekitar 1.236 lembar. Jumlah yang sangat fantastis dan menjadi salah satu alasan mengapa museum ini layak dijadikan destinasi liburan bernuansa edukasi oleh para wisatawan.

Akses menuju Museum Batik dan Sulaman Yogyakarta sangat mudah. Selain berada di wilayah perkotaan dan tepi ruas jalan utama kota Yogyakarta, berbagai rute moda transportasi umum tersedia cukup banyak di sekitar area museum. Apabila pengunjung bertolak dari Bandara Adisucipto, menaiki Trans Jogja untuk menuju ke lokasi museum ini adalah pilihan yang tepat, karena tepat di depan bangunan museum, terdapat portable Trans Jogja berkode 2B dan 2A. Sedangkan bagi wisatawan yang bertolak dari Stasiun Lempuyangan bisa berjalan kaki sekitar 200 meter dari stasiun.

Museum Batik Yogyakarta, Etalase Batik Terlengkap Se-Nusantara 3

Harga tiket masuk yang terjangkau menjadi alasan lain mengapa wisatawan Jogja perlu datang dan berkunjung ke museum ini. Setiap pengunjung dipatok tarif sebesar Rp.20.000,00 untuk fasilitas tiket masuk dan pemandu museum. Bangunan bersejarah ini buka setiap Senin sampai dengan Sabtu, pukul 08.00 – 13.00.

Bagi Anda yang ingin mengisi waktu libur lebaran ke museum ini dan seluruh tempat menarik ke Yogyakarta, segera rancang liburan berkesan Anda hanya bersama via.com. Tersedia beragam pilihan menarik seputar akomodasi liburan Anda di via.id, mulai dari tiket pesawat, tiket kereta api, hingga penginapan. Temukan penawaran terbaik untuk penerbangan ke Yogyakarta bersama Citilink hanya di situs via.id. Tunggu apalagi, segera rancang liburan berkesan Anda ke Yogyakarta hanya bersama via.com.

0 Comments

Leave a Comment

Login

Welcome! Login in to your account

Remember me Lost your password?

Lost Password