#JusticeForAudrey Menggema di Jagad Maya, Pertanda Kita Kompak Mengutuki Aksi Bullying

#JusticeForAudrey Menggema di Jagad Maya, Pertanda Kita Kompak Mengutuki Aksi Bullying - Ohayo.co.id

Ohayo.co.id – Kabar duka tengah menyelimuti dunia pendidikan. Seorang siswi SMP di Pontianak, Kalimantan Barat harus mengalami kejadian yang cukup mengerikan beberapa hari lalu. Ia harus dilarikan ke rumah sakit karena mengalami pendarahan dan infeksi yang cukup serius di alat vitalnya karena dikeroyok oleh 12 orang siswi SMA. Sempat tidak mau mengaku kepada orang tuanya, Audrey kemudian buka suara dan permasalahan ini pun dibawa ke kepolisian karena sudah bergerak lebih jauh ke arah sexual abuse dan kekerasan fisik hingga menimbulkan cacat fisik dan trauma psikis.

Tidak hanya mengalami masalah yang serius di alat vital, Audrey juga harus menanggung duka dan trauma yang amat dalam karena mendapatkan siksaan fisik dari empat pelaku utama. Empat pelaku utama ini merupakan teman kakak sepupu korban yang melakukan aksi bullying dan sexual abuse itu lantaran cemburu dengan kakak sepupu korban. Audrey hanya dijadikan umpan untuk membuat si kakak sepupu keluar dari rumah dan menemui mereka. Namun siapa sangka, di tengah jalan, Audrey justru harus mengalami kejadian tragis yang cukup memilukan. Meski sempat dibawa ke kepolisian, nyatanya ketiga pelaku utama sempat-sempatnya mengakses media sosial dan mengambil foto narsis seolah tidak pernah terjadi apa-apa.

Sebelum tagar #JusticeForAudrey menggema, kasus ini pun rencananya akan diselesaikan secara kekeluargaan. Namun, setelah pemberitaan muncul dan terkuak di jagad maya, warganet berbondong-bondong mengutuki aksi pelaku, terutama karena mereka tidak menunjukkan rasa bersalah atau menyesal. Salah satu pelaku, Salsa bahkan masih aktif di akun media sosialnya dan semakin dibanjiri pengikut, namun tanpa mengaktifkan komentar di satu pun kirimannya. Penyelesaian secara kekeluargaan tentu hanya menguntungkan salah satu pihak, karena korban tetap menanggung trauma secara psikis dan mengalami gangguan fisik karena luka yang dialaminya. Belum lagi, tersangka justru masih bisa berkeliaran bebas, tanpa ada ikhtikad baik untuk meminta maaf.

Baca juga : Lawan Keterbatasan, Ini 4 Tokoh Terkenal Dunia Penyandang Down Syndrome

Tagar #JusticeforAudrey pun membanjiri dunia maya (Foto: http://pindainews.com)

Meski sudah diancam oleh warganet dengan komentar pedas dan perundungan balik, namun hal itu tetap tidak meninggalkan kesan jera dari pihak pelaku. Salah satu akun dari tersangka, @nblechaaxx kemudian diretas oleh orang tidak dikenal dan si admin menunjukkan fakta-fakta baru mengenai bullying yang dilakukan oleh kelompok tersangka melalui DM antar pelaku. Tagar #JusticeforAudrey pun semakin ramai terkuak ke dunia maya dan mendapatkan dukungan dari berbagai artis, selebgram dan influencer, mulai dari Awkarin, Atta Halilintar, Iqbaal Ramadhan, dan Rachel Venya. Bahkan, pengacara kondang, Hotman Paris pun turut turun tangan menuntut kasus ini segera diselesaikan melalui jalur hukum setelah banyak disebut di kolom komentar oleh para warganet. Warganet juga membuat petisi untuk menghukum berat para pelaku agar memberi efek jera bagi mereka di kemudian hari.

Hingga saat ini, belum ada keterangan resmi mengenai bagaimana kelanjutan kasus Audrey. Namun, sebagai orang yang mengutuki fenomena perundungan dan bullying, warganet setuju untuk mengandangkan pelaku ke penjara tanpa adanya perbedaan perlakuan. Sebagai bangsa yang mengingkan kehidupan damai, hampir semua warganet setuju bahwa bullying harus segera ditindaklanjuti, terlebih karena menimbulkan trauma psikis dalam kehidupan korbannya. Audrey, memang diketahui bukan korban pertama dari kelompok pelaku.

Sebelum kasus Audrey, tentu kita masih mengingat kasus perundungan dan kekerasan fisik yang kerap dilakukan remaja sekolah menengah. Tidak hanya remaja laki-laki, kasus ini turut menyeret kelompok remaja perempuan yang kerap melakukannya secara bergerombol. Hal ini memang tidak dibenarkan secara moral maupun aturan tertulis melalui undang-undang. Warganet berharap, kasus ini tidak berat sebelah, terlebih melihat latar belakang salah satu tersangka yang merupakan anak dari caleg wilayah Pontianak.

Baca juga : Perempuan, Tidak Perlu Ragu Sekolah Tinggi-tinggi, Ini Alasannya!

Aksi perundungan tidak bisa dibenarkan oleh siapapun (Foto: Pexels.com/@pixabay)

Kasus bullying memang tidak bisa dibenarkan oleh siapapun. Terlebih melibatkan anak di bawah umur. Kita bisa memulai pencegahannya dari pendidikan keluarga, perbaikan kurikulum, mengontrol media yang bisa diakses oleh anak-anak atau remaja di bawah umur, hingga memberikan tauladan yang baik untuk anak-anak. Kekerasan yang diajarkan kepada anak-anak dalam keluarga maupun tontonan mereka sejak kecil tentunya membuat fenomena perundungan tidak pernah menjumpai akhir. Perumusan Undang-undang yang jelas dan tegas serta regulasi yang lebih terarah tentu bisa meminimalisir terulangnya fenomena serupa, terlebih dalam dunia pendidikan.

0 Comments

    Leave a Comment

    Login

    Welcome! Login in to your account

    Remember me Lost your password?

    Lost Password