Jokowi Sibuk Tinjau Calon Ibukota Baru, Netizen: “Lindungi Hutan, Pakde!”

Jokowi Sibuk Tinjau Calon Ibukota Baru, Netizen: “Lindungi Hutan, Pakde!”

Ohayo.co.id – Setelah melalui berbagai perencanaan sebelum survey ke lapangan, Presiden melalui akun instagramnya @jokowi, akhirnya memberi isyarat bahwa ibukota Indonesia akan dipindahkan ke Kalimantan. Salah satu kota yang begitu digadang-gadang akan menjadi calon ibukota baru pengganti Jakarta adalah Palangka Raya. Dalam kunjungannya pada Rabu (08/05), Presiden diketahui sempat berfoto di Tugu Soekarno yang ada di Palangka Raya.

Tugu Soekarno merupakan salah satu penanda penting berdirinya kota Palangka Raya. Tiang batu tersebut dipancangkan oleh Presiden Soekarno pada 62 tahun lalu. Letaknya tidak jauh dari Sungai Kahayan. Menjadi pengingat bahwa Palangka Raya dibangun di tengah hutan belantara Kalimantan. Terkait dengan wacana pemindahan ibu kota, sebenarnya Palangka Raya bukan sekali ini disebut sebagai pengganti Jakarta. Kota itu dahulu sempat disebut oleh Presiden Soekarno untuk difungsikan sebagai pusat pemerintahan menggantikan Jakarta. Namun hingga saat ini, keinginan itu tak kunjung terealisasi.

Pemindahan ibukota negara ini tidak selamanya disambut dengan tangan terbuka oleh masyarakat. Ketika wacana disampaikan kepada khalayak umum, berbagai respon muncul ke permukaan. Banyak netizen yang mendukung langkah Jokowi dalam memindahkan ibukota negara ke luar jawa mengingat Jakarta tidak ideal lagi sebagai pusat pemerintahan negara. Di sisi lain, banyak pula netizen yang menyayangkan keputusan pemindahan ibukota negara ini, karena dianggap pemborosan dan bisa memicu deforestasi hutan.

Baca juga : Pemindahan Ibukota Indonesia Akan Terealisasi, Ini Bocoran Calon Ibukota yang Baru

Salah satu komentar warganet yang banyak digaungkan di kolom komentar adalah permintaan untuk tetap menjaga keberlangsungan hayati di hutan Kalimantan. Melansir dari goodnewsfromindonesia, menurut data dari Forest Watch Indonesia atau FWI, sejumlah 82 hektar luas daratan di Indonesia masih tertutup oleh hutan. Kita tentu patut berbangga, mengingat hutan di Indonesia merupakan hutan terluas ketiga di dunia.

Geliat kehidupan masyarakat di pulau Borneo
Geliat kehidupan masyarakat di pulau Borneo (Foto: Pixabay.com/Van Zonneveld)

Penebangan besar-besaran dinilai sebagai salah satu cara yang tidak dibenarkan. Terlebih seperti yang selama ini diketahui, hutan Kalimantan memiliki manfaat yang signifikan, terutama dalam menjaga keberlangsungan hayati dan menjadi benteng pertahanan terakhir bagi bencana lingkungan secara global. Namun, apakah benar kondisi tersebut tidak dapat sama sekali diatasi?

 

View this post on Instagram

 

A post shared by Dünya Halleri (@dunyahalleri) on

Pembuatan kota administratif yang ramah lingkungan dan serba hijau bisa saja dilakukan apabila rakyat dan pemerintah cukup sinergis dalam usaha semacam ini. Kita sebenarnya bisa belajar banyak dari salah satu forest city terkemuka di China, yakni kota Liuzhou. Kota ini difungsikan sebagai kota ramah lingkungan dengan berbagai tanaman yang ditempatkan secara vertikal di gedung-gedung bertingkat.

Baca juga : Bukan Kali Pertama Indonesia Berencana Pindah Ibukota

Penciptaan hutan buatan atau kebun vertikal ini dinilai mampu menyerap berbagai polutan dan radikal bebas yang merugikan kesehatan penduduknya. Jadi, meskipun sebuah kota harus menyita lahan untuk pembangunan gedung baru, sejatinya ada banyak cara futuristik berkaitan dengan pengelolaan lingkungan berkelanjutan yang bisa ditempuh.

Perbaikan regulasi terkait pengelolaan kawasan hutan juga bisa ditempuh agar pemindahan ke ibukota baru ini tidak berdampak buruk pada lingkungan sekitar. Dukungan dari rakyat dan sistem pemerintahan yang serius menjadi kunci dari keberhasilan program semacam ini.

Menurutmu, apakah Palangka Raya layak untuk menggantikan Jakarta sebagai ibukota negara, apabila melihatnya dari banyak sisi?

0 Comments

    Leave a Comment

    Login

    Welcome! Login in to your account

    Remember me Lost your password?

    Lost Password