Jalan-jalan ke Mesir: Menahan Haru di Puncak Gunung Musa

 

Menjelang maghrib kami berangkat meninggalkan Uyun Musa menuju Saint Caterine. Saint Caterine adalah sebuah kawasan di kaki Gunung Thurisina (Gunung Musa) yang menjadi titik awal jalan-jalan kami menuju puncaknya. Nama Saint Caterine diambil dari nama komplek gereja tua yang terkenal yaitu Saint Caterine Monastery. Jarak tempuh dari Uyun Musa ke Saint Caterine sekitar 7 jam perjalanan.

Perjalanan ke sana cukup menyenangkan, meskipun malam. Dari dalam bis kami masih bisa melihat pemandangan yang terdiri dari bukit-bukit batu yang menakjubkan. Selain menyenangkan perjalanan ke sana juga cukup berbahaya. Selain jalan yang curam, juga terdapat ancaman teror dari para begal dan teroris. Kawasan Sinai memang merupakan kawasan rawan teror sejak terjadinya revolusi di Mesir beberapa tahun yang lalu. Kabar dari pihak kepariwisataan mesir juga mengatakan bahwa di Sinai ada ancaman dari kelompok ISIS.

Dua minggu sebelum kami berangkat ke Sinai sebuah pesawat Rusia jatuh di kawasan ini dan ISIS mengaku sebagai pelakunya. Maka tidak heran jika setiap beberapa kilometer terdapat pos pemeriksaan yang dijaga ketat oleh kesatuan tentara. Setelah sekitar setengah perjalanan kami berhenti lagi di sebuah pos pemeriksaan. Tentara yang bertugas menghimbau kami untuk tidak menggunakan jalan yang akan kami tempuh sebelumnya. Tentara tersebut mengatakan bahwa di jalan itu ada begal.

Kami disuruh menempuh jalan lain yang tentu jarak dan waktu tempuhnya lebih lama. Demi keamanan kami memilih jalan yang disarankan pihak keamanan. Tepat pukul setengah satu kami sampai di saint caterine. Kedatangan kami disambut hawa yang lebih dingin dari biasanya. Konon, saat itu suhu sedang berada di bawah nol derajat celcius. Kami punya waktu sekitar setengah jam untuk persiapan mendaki.

Kami semua memakai pakaian musim dingin berlapis-lapis dan menyiapkan semua perlengkapan pendakian termasuk di dalamnya makanan dan obat-obatan. Setelah semuanya siap kami berangkat mendaki secara berkelompok. Setiap kelompok terdiri dari 10 sampai 12 orang. Pendakian pun dimulai. Dengan mengandalkan cahaya lampu senter kami merayap menyusuri jalanan terjal dan kerikil-kerikil yang berserakan.

Jalan yang kami tempuh lebarnya kira-kira 1 meter. Sampai pada jarak tertentu untuk bisa melalui jalan itu. Maka bisa dilihat orang-orang Baduwi menjajakan untanya untuk dinaiki. Tarif naik unta adalah 80 Pound per pos atau sekitar Rp 160-ribu. Antara satu pos dengan pos lainnya sekitar 7 kilometer. Adapun waktu tempuh untuk sampai ke Puncak Sinai adalah sekitar 5 jam. Di setiap pos terdapat kedai yang menjual makanan. Namun makanan di sini harganya 4 kali lipat harga biasa.

Mie instan dalam kemasan cup adalah makanan favorit  di  kedai-kedai sekitar Gunung Sinai. Dalam remangnya malam dan gemerlap bintang-bintang di langit kami bisa menyaksikan tebing-tebing batu terjal yang menakjubkan di sepanjang perjalanan. Batu-batu itu seakan terukir. Semakin di atas semakin indahlah pemandanganya dan tentunya semakin jelas. Kadang-kadang kami bisa melihat bintang jatuh di langit.

Namun semakin ke atas medan semakin sulit. Jalan yang kami tempuh bukan lagi jalan selebar satu meter, tapi jalan batu setapak yang licin. Yang apabila kita terpeleset kita bisa jatuh terguling ke jurang yang dalam yang kemungkinan selamatnya tipis. Tepat ketika fajar menyingsing di ufuk timur kami sampai di puncak. Kami tidak bisa menahan haru. Aku sendiri langsung ambruk dalam sujud. Air mataku tumpah seketika. Syukur tiada terkira bagi Dzat yang telah bersumpah atas bukit ini.

Dzat yang telah memberi kesempatan kepadaku untuk bisa menengok jejak nabi. Yang sebelumnya belum pernah mendaki satu gunung-pun di Indonesia. Kini diberi kesempatan menapak tilasi perjalanan Nabi Musa AS membimbing Bani Israel. Gunung inilah dengan dengan segala sudutnya yang menjadi saksi. Puncak yang aku injak kini adalah tempat di mana Musa bermunajat kepada Tuhannya. Tempat dimana musa berbicara dengan Allah.

Aku bangkit dari sujud. Kulihat sekelilingku. Yang tampak adalah seperti lautan. Itulah lautan perbukitan yang ditutup kabut. Aku berada di puncak tertinggi di Mesir. Sementara matahari tampak semakin jelas di timur. Cahayanya menerpaku. Aku terpukau dengan suasana ini. Dalam zikir kuterus tafakuri pemandangan ini. Pemandangan yang belum pernah aku lihat sebelumnya. Oh, betapa bersejarahnya tempat ini.

Setiap jengkal batu yang ada merekam sejarah perjuangan Musa. Bahkan merekam perjalanan Rasulullah SAW ketika melakukan Isra dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsa. Begitulah sakralnya Sinai. Tidak heran jika Allah bersumpah demi bukit ini dan Alquran telah menyebutnya sedikitnya sembilan kali. Waktu subuh pun tiba, kami melaksanakan shalat di luar masjid. Tidak ada air bukan masalah, Islam mensyariatkan tayamum jika tiak ada air.

Beralaskan lantai batu yang dingin kami larut lagi dalam sujud. Memuji sang pencipta yang telah menciptakan Sinai dan menyucikannya atas tempat lainnya. Di puncak Sinai terdapat masjid dan gereja.

Ini menunjukan bahwa tempat ini disakralkan oleh agama-agama monoteis. Sinai ini adalah tempat haji dan umrahnya orang-orang Yahudi dan Kristen. Konon, tiap tahun orang Yahudi berani membeli visa yang mahal agar bisa mengunjungi tempat-tempat suci mereka di Sinai.

Ketika larut dalam tadabbur (merenungi dan menikmati  keindahan ciptaan Tuhan), tiba-tiba rasa dingin menyerangku. Aku baru sadar bahwa ini adalah puncak gunung dan saat itu adalah musim dingin. Di puncak Sinai juga biasa turun salju. Temperatur saat itu berada dibawah nol derajat celcius, tepatnya -4 ⁰C. Jaket tebal dan baju rangkap tiga tambah selimut tidak kuasa menahan dingin. Akhirnya aku ambruk di dalam masjid. Ketika teman-temanku asyik berfoto-foto, aku malah terbaring di dalam masjid kecil menahan dingin. Dingin itu begitu menyiksa hingga aku merasa tidak akan bisa lagi turun ke bawah.

Pukul 8 pagi waktu setempat waktunya turun gunung. Masih ada objek-objek wisata lain di lereng gunung Sinai. Awalnya aku merasa tidak kuat berdiri. Tapi setelah dipaksa aku bisa berjalan meski kaki terasa sakit dan terasa membeku. Perjalanan ke bawah cukup menyenangkan. Rute yang dipilih pun lebih sulit dari rute sebelumnya. Kali ini kami harus menuruni medan menurun dengan kemiringan hampir 90 derajat.

Pijakan kami adalah batu-batu sejenis karang yang licin yang apabila tidak hati-hati bisa tergelincir.

 

Catatan editor: artikel ini merupakan seri jalan-jalan ke Mesir, dimana Gun Gun Gunawan, penulisnya, berkesempatan mengunjungi Mesir pada 2015.

Bersambung

(Ohayo.co.id - Jalan-jalan)
Penulis: Gun Gun Gunawan
Editor: Fitria Yusrifa

 

0 Comments

Leave a Comment

Login

Welcome! Login in to your account

Remember me Lost your password?

Lost Password