Menelusuri Jejak Musa dan Sisa-sisa Perang di Gurun Sinai

Ohayo.co.id – Semenanjung Sinai termasuk daerah yang paling bersejarah di Mesir. Kehidupan di kawasan ini bisa dilacak sejak ribuan tahun yang lalu, yaitu saat peradaban manusia baru muncul.

Peradaban Mesir Kuno, Funisia, Babilonia, Romawi, Yunani, dan Persia selalu bersentuhan dengan kawasan ini. Lebih dari itu, kita dengan mudah menemukan jejak-jejak para nabi yang dipercayai ketiga agama samawi: Islam, Kristen, dan Yahudi.

Sinai terletak di bagian paling Timur negara Mesir. Secara geografis terletak di Benua Asia, meskipun Mesir terletak di Benua Afrika. Berbatasan dengan Israel, Palestina dan Yordania di sebelah Timur dan Arab Saudi di Selatan.

Di sebelah selatan, Sinai dikelilingi Laut Merah (Teluk Suez dan Teluk Aqabah). Beberapa dekade ke belakang Sinai menjadi ajang rebutan antara Israel dan Mesir dan juga negara-negara barat. Hal ini karena posisi Sinai yang strategis. Daerah ini juga pernah dikuasai Israel selama 7 tahun, dari 1967 sampai 1973.

Selepas zuhur kami bertolak dari Ismailiyah menuju Sinai melewati Kota Suez, lalu melewati terowongan bawah laut di Laut Merah. Kami sampai di dataran Sinai setelah melakukan perjalanan yang memakan waktu sekitar tiga jam.

Kini apa yang aku lihat di gambar-gambar di internet terbukti. Sinai didominasi gurun pasir dan bukit-bukit batu. Di sini jarang sekali ditemukan pemukiman. Tampak di beberapa titik beberapa batang pohon kurma yang tumbuh subur; menandakan di situ ada oase.

Masuk ke dalam Benteng Israel, merasakan suasana perang

Gurun Sinai Mesir
Dari atas Pegunungan Sinai, terbentang pemandangan laut kebiruan di kejauhan. (Foto: Shutterstock)

Tempat yang pertama kami kunjungi adalah benteng Barlev Line. Benteng ini dibangun oleh Israel beberapa saat setelah mereka merebutnya dari Mesir.  Berdasarkan penuturan tentara yang berjaga dan sekaligus berfungsi sebagai pemandu, benteng ini termasuk benteng terkuat yang dimiliki Israel di masanya.

Karena dibangun di bawah tanah, atau tepatnya di bawah gurun pasir, benteng ini sangat sulit ditemukan atau ditembus musuh. Termasuk oleh pasukan Mesir ketika itu.

Padahal jarak benteng itu dari Suez sangat dekat; dan kini benteng tersebut berfungsi sebagai museum. Bersama rombongan aku memasuki lorong-lorong bawah tanah sekuruan 1x 2 meter. Ternyata area benteng ini luas sekali.

Ada berbagai macam ruangan di sini. Ada ruang kendali, ruang sistem informasi, ruang senjata, ruang tidur, dan kantor utama. Setiap dinding bangunan ini dilapisi oleh logam yang dibentuk mirip asbes untuk bahan bangunan. Sekilas pandang bentuknya mirip atap yang terbuat dari alumunium.

Di kantor utama terdapat diorama saat benteng ini digunakan Israel. Diorama itu memperagakan suasana perang saat itu. Tampak seorang dengan seragam militer lengkap sedang duduk di atas meja kerjanya. Di atas meja itu terdapat telepon, bendera Israel, dan alat-alat lain.

Ada juga ruang sistem informasi. Di sini terdapat alat-alat yang terkait dengan sisitem informasi saat perang seperti radio, dan lain-lain. Sementara di ruang tidur masih bisa disaksikan ranjang-ranjang tentara Israel lengkap dengan bantal dan seprei dengan warna yang sama dengan warna bendera Israel.

Tampak meriam mesin berukuran besar di ujung lorong. Konon katanya tembakan meriam ini bisa sampai ke Kairo. Di belakang meriam terdapat diorama yang menceritakan aktivitas di tempat ini pada awal dekade 1970-an .

Waktu itu rombongan tentara-tentara lengkap dengan persenjataan sedang memegang pelatuk meriam-meriam besar. Pada 6 Oktober 1973 benteng ini berhasil direbut oleh Mesir sekaligus merebut Sinai dan memukul mundur Israel.

Setelah berkeliling benteng kami melakukan shalat ashar di mushala kecil milik kamp tentara. Tentara di sini sangat ramah kepada kami.

Kesan tentara Mesir yang sangar seperti di Kairo tidak ada di sini. Bahkan kami sempat ngobrol panjang lebar dengan beberapa tentara. Banyak dari mereka adalah para pemuda Mesir yang wajib mengikuti latihan kemiliteran selama dua tahun.

Air surut di dalam Sumur Nabi Musa

Tempat beristirahat di Gurun Sinai
Mungkin kamu tak pernah membayangkan ada cottage di tengah gurun Sinai. (Foto: Shutterstock)

Perjalanan berikutnya adalah ke Uyun Musa yang terletak sebelah timur tidak jauh dari benteng Israel. Uyun musa atau mata air Musa adalah sumur yang konon muncul setelah Nabi Musa AS memukulkan tongkatnya ke atas batu atas perintah Allah.

Dikisahkan bahwa pada saat itu Musa AS dan kaum Yahudi sedang dalam perjalanan hijrah dari Mesir ke Palestina menghindari kekejaman Firaun. Lalu ketika di tempat ini kaum Yahudi kehausan, mereka meminta kepada Musa agar berdoa kepada Allah supaya mereka diberikan air.

Maka berdoalah Musa AS hingga Allah memerintahkannya memukulkan tongkat ke atas batu. Maka terpancarlah dua belas mata air. Peristiwa ini terekam dalam kitab suci kaum muslim.

“Dan (ingatlah) ketika Musa memohon air untuk kaumnya, lalu kami berfirman: ‘Pukullah batu dengan tongkatmu’. Lalu memancarlah daripadanya dua belas mata air. Sungguh tiap-tiap suku telah mengetahui tempat minumnya (masing-masing). Makan dan minumlah rezeki (yang diberikan) Allah, dan janganlah kamu berkeliaran di muka bumi ini dengan berbuat kerusakan. (QS: Al-Baqarah: 60).

Saat ini sumur yang berjumlah dua belas itu tinggal beberapa saja. Sumur-sumur ini sudah tidak berair lagi, dan letaknya di padang pasir yang terletak tak jauh dari laut. Hanya sedikit air yang keluar dari sumur-sumur yang tersisa.

Di sebelah Barat terlihat Teluk Suez dan sebelah timurnya Teluk Aqaba. Kawasan sekitar sumur tampaknya cukup subur dengan suasana sekeliling ditumbuhi pohon kurma. Kecuali warung pedagang kecil yang waktu itu sepi, tidak ada pemukiman di daerah itu.

Hari sudah sangat sore, matahari mulai tenggelam di ufuk Barat memancarkan cahaya keemasan di seantero langit. Sementara permukaan laut memantulkan cahaya matahari itu dan menimbulkan bayangan langit yang indah, biru keemasan. Perpaduan antara sinar matahari yang kemerahan, langit berwarna kuning emas, dan ombak pasir di atas gurun membentuk harmoni warna yang indah.

Mungkin warna dan pemandangan macam itu hanya bisa di lihat di sini. Di bumi para nabi.

(Ohayo.co.id - Jalan-jalan)
Penulis: Gun Gun Gunawan
Editor: M. Hadid

Warna dan pemandangan sore yang menakjubkan hanya bisa dilihat di Gurun Sinai, Mesir, buminya para nabi.

0 Comments

Leave a Comment

Login

Welcome! Login in to your account

Remember me Lost your password?

Lost Password