Industri Clothing Skala Kecil dan Gerakan Slow Fashion

Ohayo.co.id – Beberapa tahun terakhir ini di Indonesia cukup marak bermunculan merek-merek clothing label yang digagas oleh pengusaha-pengusaha kecil di berbagai daerah. Hal ini sempat menjadi tren pada sekitar tahun 2010-an. Beberapa dari mereka masih bertahan dan mempunyai konsumen yang cukup loyal.

Kemunculan beberapa clothing label tersebut didasari minat anak muda yang besar terhadap personalisasi pada produk fashion yang mereka pakai. Produk clothing label yang menyasar pasar spesifik berdasarkan preferensi musik, gaya hidup atau subkultur tertentu menjadi sumber pemenuhan idealisme konsumennya dalam berpakaian. Bahkan, seringkali produk fashion tersebut dianggap menjadi penguat identitas mereka.

Dalam dunia fashion secara umum, belakangan muncul gerakan slow fashion. Gerakan ini merupakan antitesis terhadap cara kerja beberapa produsen fashion ternama dunia yang terkadang dianggap mengeluarkan produk yang terlalu agresif.

Gerakan slow fashion mempunyai pandangan bahwa pelaku industri fashion perlu mempertimbangkan beberapa aspek lain dalam produksi barang yang mereka jual. Aspek tersebut meliputi keberlangsungan lingkungan hidup berkaitan dengan pemakaian bahan yang dipakai dalam suatu produk fashion.

Selain itu, aspek lain yang juga dipikirkan dalam gerakan slow fashion adalah kesinambungan berbagai pihak yang terlibat dalam proses produksi suatu produk. Semua pihak yang ikut dalam proses produksi dari hulu sampai hilir harus diuntungkan dengan layak.

Prinsip dari gerakan slow fashion ini sendiri sebenarnya layak untuk dipertimbangkan dalam proses produksi, termasuk produk fashion keluaran industri clothing kecil. Secara langsung atau tidak langsung, jika prinsip-prinsip dari gerakan ini diterapkan akan mampu membantu keberlangsungan industri itu sendiri secara lebih bertanggungjawab.

Karakteristik industri clothing lokal dan prinsip Slow Fashion

Industri Clothing Skala Kecil dan Gerakan Slow Fashion - Ohayo.co.id a

Dalam aspek tertentu, sebenarnya sudah ada prinsip dari gerakan slow fashion sudah diterapkan oleh sebagian pelaku industri clothing label kecil di Indonesia secara sadar atau tidak sadar. Basis mereka yang berasal dari komunitas atau segmen tertentu membuat sistem distribusi produk mereka lebih spesifik. Seringkali konsumen mereka merupakan orang-orang dari lingkaran dekat si produsen. Dengan begitu, proses produksi dapat lebih mudah terpantau oleh konsumen itu sendiri.

Produsen clothing label skala kecil juga tidak mudah untuk mengambil keuntungan setinggi mungkin dari konsumennya. Biaya produksi yang lebih terbuka membuat konsumen lebih mampu menentukan apakah keuntungan yang didapat cukup pantas untuk diterima oleh produsen. Keputusan untuk memilih produk berdasarkan harga jual juga didasarkan rasa penghargaan dan penilaian terhadap produsen dan pihak yang terkait dengan proses produksi, tidak hanya sekedar penilaian terhadap barang jadi hasil produksi itu sendiri.

Baca juga : Kumpulan Model Pakaian Street Style Pria yang Kontroversial Banget Wajib Dicoba

Pihak lain yang dilibatkan dalam proses produksi clothing label lokal relatif mendapat keuntungan lebih baik daripada ketika harus bekerja dengan produsen fashion besar. Dengan mengambil contoh produksi sebuah T-shirt contohnya, pemilik merek clothing label skala kecil seringkali hanya menyediakan desain dan spesifikasi bahan kaos yang akan dipakai. Kemudian ia menyerahkan bahan kaos ke pihak penjahit dan ketika sudah selesai akan diserahkan kepada tukang sablon printing untuk merealisasikan gambarnya. Dalam hal ini, pihak penjahit dan tukang sablon merupakan unit kerja yang mandiri dan menentukan harga mereka sendiri berdasarkan mekanisme pasar dan perhitungan margin keuntungan mereka. Dengan begitu, akan lebih banyak unit usaha mandiri yang terlibat dalam produksi satu potong T-shirt yang dijual.

Dalam kasus lain, misal saat sebuah clothing label kecil mempunyai unit produksi sendiri, mereka akan membutuhkan tenaga kerja tambahan. Biasanya, kebutuhan tenaga kerja ini dipenuhi dari lingkungan pertemanan mereka sendiri. Pemilik clothing label akan menentukan orang dari dalam lingkup pertemanan mereka yang dianggap mempunyai kemampuan tertentu dan kebetulan sedang membutuhkan pekerjaan untuk direkrut menjadi tenaga kerja. Dengan proses seperti ini, sistem pengupahan, pembagian beban kerja dan tanggung jawab akan lebih mudah untuk dibicarakan untuk menemukan kesepakatan bersama.

Hal yang bisa dilakukan produsen clothing label kecil untuk memenuhi prinsip Slow Fashion

Industri Clothing Skala Kecil dan Gerakan Slow Fashion - Ohayo.co.id b

Beberapa hal bisa dilakukan oleh produsen pemilik clothing label skala kecil untuk dapat memenuhi prinsip slow fashion secara lebih maksimal. Sebelum beranjak ke prinsip lain, prinsip yang sudah ada dan sudah dijalankan perlu dipastikan konsistensinya juga perlu dipertegas dalam proses produksi. Bahkan, beberapa prinsip yang sudah dijalankan perlu ditingkatkan dan diperluas kemanfaatannya. Selain itu, perlu juga dipikirkan bagaimana prinsip-prinsip tersebut masih bisa dijalankan ketika bisnis sudah mulai berkembang agar tidak terjebak dalam pola produksi produsen fashion besar yang selama ini menjadi kritik.

Hal lain yang perlu dilakukan oleh pemilik clothing label skala kecil adalah dalam pemilihan bahan produksi. Salah satu hal yang menjadi concern utama gerakan slow fashion adalah faktor lingkungan. Bahan-bahan dasar pembuatan fashion item yang diproduksi perlu menggunakan bahan yang ramah lingkungan. Pada bahan kain misalnya, penggunaan kain berbahan Polyester konvensional yang dianggap susah terurai dan merusak lingkungan perlu dihindari. Produsen bisa beralih ke bahan lain yang berbahan dasar dari tumbuhan atau bahkan ke material Polyester ramah lingkungan yang saat ini mulai muncul di pasaran. Selain bahan kain, ada juga bahan pendukung lain yang perlu diperhatikan. Penggunaan bahan pewarna sablon konvensional sebenarnya juga cukup berbahaya bagi lingkungan dan kesehatan orang yang berinteraksi dengannya. Saat ini, sudah ada beberapa produk eco-printing yang bisa dijadikan bahan alternatif lain untuk mereduksi bahaya-bahaya tersebut.

Baca juga : Inspirasi Style Simple Tapi Keren Pria

Aspek tambahan lain yang juga perlu dipikirkan untuk menerapkan prinsip slow fashion secara lebih efektif adalah menerapkan proses produksi yang lebih ramah lingkungan. Proses pengolahan limbah dari setiap tahap produksi perlu dijalankan secara matang agar tidak merusak lingkungan. Keselamatan dan kesehatan pekerja juga harus dipertimbangkan sebagai prasyarat. Tahap pengemasan dan pengiriman produk juga perlu menghindari hal-hal yang dianggap merusak lingkungan hidup.

Apabila pemilik clothing label skala kecil dapat menerapkan konsep slow fashion secara maksimal, akan banyak nilai tambah yang dapat diperoleh. Dalam perspektif produsen, penerapan prinsip semacam ini akan dapat meningkatkan kepuasan personal secara lebih karena dapat menghasilkan suatu produk yang mensejahterakan banyak pihak dan menjaga lingkungan hidup. Dari segi konsumen sendiri, mereka akan lebih merasa memiliki rasa tanggung jawab terhadap lingkungan dan semua pihak yang terlibat dalam proses produksi dengan membeli sebuah produk yang menerapkan prinsip slow fashion selama proses produksinya. Pada akhirnya juga, nilai produk dari sebuah fashion  item yang dibuat dengan mengikuti prinsip slow fashion juga akan bertambah dari berbagai segi.

0 Comments

    Leave a Comment

    Login

    Welcome! Login in to your account

    Remember me Lost your password?

    Lost Password