Cap Go Meh yang Kehilangan Rombongan Musisi

Ohayo.co.id – Di setiap perayaan Cap Go Meh, mata orang-orang yang hadir di sana dipastikan tidak bisa lepas dari tujuh sampai sepuluh orang pemain musik yang berbaris dalam keteraturan sembari memainkan beberapa macam alat seperti simbal, drum, saxofon, piston, trombone, klarinet, dan terompet. Pemandangan gerombolan musisi tanjidor rasanya tidak pernah luput di sepanjang sejarah Cap Go Meh di Indonesia.

“Tanpa Tanjidor, perayaan Imlek dan Cap Go Meh kehilangan pamornya,” demikian kata James Dananjaja, antropolog sekaligus ahli folklor, seperti dikutip majalah Historia.

Gado-gado musik untuk tradisi imlek

Tanjidor dan Cap Go Meh

Musisi Tanjidor. (Foto: COLLECTIE TROPENMUSEUM/Wikimedia)

Batavia, nama kota yang disematkan untuk Jakarta di era kolonial, sampai tahun 1808 dikelilingi benteng tinggi. Pejabat Belanda yang hidup di era itu kerap membangun rumah besar nan mewah di daerah kantong seperti Cililitan atau Pondok Gede.

Di dalam rumah-rumah itulah ratusan budak dipekerjakan oleh pejabat kolonial. Macam-macam pekerjaannya, namun beberapa orang dari mereka khusus ditugaskan memainkan alat-alat musik.

Di antara para budak di dalam rumah-rumah itu, ada kelompok yang ditugaskan khusus memainkan alat-alat musik untuk menghibur penghuni rumah di malam hari.

Sejarah tanjidor memang tidak bisa dilepaskan dari relasi antara budak dan tuannya. Dalam relasi semacam itu, tersebutlah nama Augustijn Michiels, yang di dalam sejarah lebih dikenal lewat nama Mayor Jentje.

Sang Mayor tinggal di Citrap, atau yang sekarang disebut Citeureup. Di sanalah dia mengorganisir Korps Musik Papang yang menurut catatan Kompas dalam artikel berjudul “Mayor Jantje dan Tanjidor” dibentuk antara 1827 – 1829.

Baca juga : 5 Kuliner Legendaris di Jakarta yang Masih Menjadi Primadona

Pesta terus diadakan setiap malam di kediaman sang mayor. Saya sulit membayangkan seperti apa pesta yang berlangsung di dalam rumah para elit.

Namun dari malam ke malam, sampai sang mayor meninggal pada 27 Januari 1833, Korps Musik Papang terus-menerus memberikan hiburan dari satu pesta ke pesta lainnya. Di setiap malam yang penuh dengan riuh rendah suara orang-orang berpesta, korps musik itu memainkan macam-macam musik, mulai dari musik Eropa sampai musik Tionghoa.

Di situlah satu ciri tanjidor terlihat jelas: jenis musik satu itu muncul karena gabungan macam-macam budaya. Bolehlah ia disebut sebagai gado-gado musik.

Meninggalnya sang mayor menyebabkan ketidakjelasan keberadaan Korps Musik Papang, sampai akhirnya grup itu membubarkan diri tanpa paksaan, dan mungkin tanpa konflik. Tetapi gado-gado musik ala tanjidor tidak lantas mati.

Budak-budak yang tinggal di rumah sang mayor dilelang bersama alat musik yang mereka mainkan. Syahdan, budak-budak itu keluar dari rumah, namun kemampuan memainkan alat musik mereka tidak ikut mati.

Laman Historia menyebut budak-budak yang keluar dari rumah sang mayor membentuk kelompok musik sendiri. Mereka memainkan musik keliling, menyambangi rumah-rumah warga Tionghoa di Batavia.

Tanjidor teman setia Cap Go Meh

Tanjidor - Cap Go Meh yang Kehilangan Rombongan Musisi - Ohayo.co.id

Musisi Tanjidor. (Foto: IndonesiaKaya)

Orang-orang Tionghoa yang senang dengan penampilan musisi keliling itu lantas memberikan angpau, sebuah amplop merah berisi sejumlah uang. Barangkali mereka terkesan dengan tanjidor lantaran masih ada campuran musik etnis Tionghoa di dalamnya.

Jadinya mereka merasa dekat dengan tanjidor. Karena itu pula selama beberapa waktu tanjidor jadi jenis musik yang identik dengan perayaan Imlek. Dulu, tradisi Imlek di Batavia sangat dekat dengan tanjidor, yang disebut-sebut sebagai musik paling setia, yang pasti dimainkan setiap kali Imlek dirayakan.

Di puncak perayaan Imlek, malam ke-15, yang lebih dikenal dengan Cap Go Meh, orang-orang dihibur oleh rombongan musisi Tanjidor. Anak-anak dan orang dewasa bersuka cita menikmati sajian rombongan musisi tanjidor di malam perayaan tahun baru China.

Di malam puncak Cap Go Meh, kelenteng jadi lokasi pusat perayaan. Disanalah orang-orang tumpah ruah dalam keramaian jalanan, sembari menunggu kirab dan pertunjukan lain. Di tengah kerumunan orang-orang yang melihat pertunjukan demi pertunjukan, tanjidor nongol dan menunjukkan kekhasannya.

Baca juga : Makna Filosofis Lampu Lampion Imlek yang Wajib Anda Tahu

Sampai Batavia berubah nama menjadi Jakarta, pemandangan puncak perayaan imlek yang identik tanjidor terus berlangsung di Jakarta, setidaknya sampai tahun 1953. Ketika itu Walikota Jakarta Sudiro sempat melarang tanjidor dimainkan di perayaan setiap perayaan Imlek yang berlangsung di Jakarta.

Rombongan musisi tanjidor kini kebanyakan sudah berusia uzur. Saya tidak punya data yang bisa menjelaskan berapa jumlah musisi tanjidor yang masih ada sekarang, tapi tampaknya bukan lagi orang-orang yang tinggal di Jakarta.

Kebanyakan musisi tanjidor jaman now adalah orang-orang yang tinggal di daerah satelit Jakarta seperti Bogor, Bekasi, dan Tangerang.

Tanjidor memang identik sebagai pertunjukan musik yang diadakan setiap Imlek tiba. Walau begitu, musik jenis itu tidak lahir dari rahim budaya Tionghoa, melainkan lahir dari percampuran budaya.

Meski pernah dilarang tampil di Ibukota puluhan tahun silam, jangan lupa bahwa tanpa rombongan musisi tanjidor, Cap Go Meh takkan jadi perayaan yang meriah.

0 Comments

Leave a Comment

Login

Welcome! Login in to your account

Remember me Lost your password?

Lost Password